Jangan Membuat dia Jatuh Cinta, Jika Kamu Tidak Berniat Untuk Menikahinya


Memang indah bisa menikah dengan orang yang kita cinta dan dia pun mencintai kita. Namun jika hal itu tak terjadi, maka menikahlah dengan ia yang mencintai kita sekali pun kita belum mencintainya.
.
Lantas, siapa yang dikategorikan mencintai kita? . 
Yang mencintai kita bukan dia yang setiap pagi ngingetin sarapan, bukan dia yang setiap malam ngucapin met bobo, bukan pula dia yang perhatian suruh minum obat saat kamu sakit. Bukan. Mereka hanya kaum galau yang ingin menikmati tanpa bisa menikahi. Yang ingin enak-enak memiliki tanpa capek-capek menafkahi.

Itu bukan cinta, Neng. Sekali lagi bukan.
.
Yang mencinta, adalah ia, seorang lelaki yang berikhtiar memperbaiki diri sampai saatnya tiba. Ia datang dengan membawa bingkisan keshalihan, mengatakan rasanya dengan ditemani serombongan keluarga. Dengan modal komitmen. Bukan sekuntum mawar apalagi sebatang coklat. .
Yang mencinta, adalah ia, seorang lelaki yang sabar menyimpan rasa; tak mencecer namamu di beranda. Ia sibuk berdoa kepada Allah. Menanti dengan kesucian hati. Menunggu dengan kemurnian rindu. Sampai ketetapan-Nya tiba, karena Allah.
.
Tapi selain itu, ingat, seba'da menikah, yang diperlukan bukan hanya ia yang dicinta. Tapi, ia yang juga dapat dipercaya. Dipercaya bisa membuatmu nyaman. Dipercaya bisa bertanggung jawab. Dan dipercaya, bisa menuntunmu tuk semakin dekat dengan Allah.

Ah baiklah, sejenak mari kita berdoa... . 
Yaa Allah, segerai pertemuan ini.


Oleh  @alfaruqhaidar -
Buat lebih berguna, kongsi:
close